Translations

GEREJA ATAU KITAB SUCI

Bagian Pertama:
---------------

SAUDARAKU YANG TERKASIH: - Saat Kristus mengutus para rasul serta pengikut-pengikut-Nya ke seluruh penjuru dunia untuk memberitakan Injil kepada segala mahluk, Ia menetapkan persyaratan bagi suatu keselamatan, kata-Nya: "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum" (Markus 16:16). Disini Kristus menetapkan dua syarat keselamatan: Iman dan pembaptisan. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum -- binasa. Maka dua kondisi bagi keselamatan adalah: Iman serta pembaptisan. Petang hari ini saya akan membicarakan tentang kondisi pertama, yaitu Iman.

Kita harus mempunyai Iman agar dapat diselamatkan, dan Iman tersebut haruslah Iman terhadap Tuhan, bukan iman terhadap manusia. Iman terhadap manusia tidak akan menyelamatkan, tetapi hanya Iman terhadap Tuhanlah yang menyelamatkan. Apakah itu Iman terhadap Tuhan? Yaitu percaya, melalui mereka yang diberi kuasa oleh-Nya, segala kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Itulah Iman terhadap Tuhan. Untuk percaya segala yang diajarkan-Nya melalui mereka yang diberi kuasa oleh-Nya, dan untuk percaya tanpa mempertanyakan, tanpa keragu-raguan. Pada saat engkau mulai bertanya atau ragu-ragu, pada saat itulah engkau mulai tidak mempercayai mereka yang diberi kuasa oleh-Nya, dan itu menghina Tuhan karena mempertanyakan perkataan-Nya. Maka Iman terhadap Tuhan adalah percaya tanpa mempertanyakan, tanpa keragu-raguan. Iman terhadap manusia adalah bila kita percaya pada sesuatu melalui mereka yang diberi kuasa oleh manusia -- terhadap kuasa manusia. Itulah iman terhadap manusia. Tetapi Iman terhadap Tuhan adalah percaya tanpa mempertanyakan, apapun yang dinyatakan oleh Tuhan melalui mereka yang diberi kuasa oleh-Nya, terhadap sabda Tuhan.

Oleh karena itulah, sahabatku yang terkasih, perbedaan agama yg dianut oleh seseorang bukanlah masalah, selama ia menjalankan hidupnya dengan baik.

Pada abad Sembilan Belas ini kalian mendengar kata-kata tersebut diucapkan, bahwa tidaklah penting agama yang dianut oleh seseorang selama ia menjalankan hidupnya dengan baik. Hal tersebut adalah KESESATAN, sahabatku yang terkasih, dan saya akan membuktikannya kepadamu. Bila keyakinan seseorang adalah tidak penting selama ia menjalankan hidupnya dengan baik, apalah gunanya bagi Tuhan untuk menyatakan segala sesuatu tentang diri-Nya. Bila manusia memiliki hak untuk bebas menolak apa yang dinyatakan oleh Tuhan, apalah gunanya Kristus mengutus para rasul serta pengikut-pengikut-Nya untuk mengajar segala bangsa, bila bangsa tersebut bebas untuk percaya atau menolak ajaran-ajaran para rasul serta para pengikut-Nya? Lihatlah, hal ini tentu menghina Tuhan.

Bila Tuhan menyatakan atau mengajarkan sesuatu, Ia ingin untuk dipercayai. Manusia wajib untuk percaya apapun yang dinyatakan oleh-Nya, karena manusia wajib menyembah Tuhan, dengan segala akal budi dan pikirannya, serta dengan seluruh hati dan keinginannya. Dialah tuan bagi seluruh umat manusia. Ia menegaskan seluruh keinginan, kehendak, serta pikiran-Nya.

Siapakah orang yang dalam hal ini, tak peduli apakah itu gerejanya, atau sektenya, atau bahkan agama yang dianutnya, yang menolak bahwa kita manusia wajib percaya apa yang telah dinyatakan oleh Tuhan? Saya yakin tak ada seorang pun Kristiani yang menolak pernyataan ini. Maka dari itu, bukanlah soal perbedaan agama yang dipercayai seseorang. Seseorang harus mempercayai agama yang benar bila ingin diselamatkan.

Tapi apakah agama yang benar itu? Yaitu percaya semua yang telah diajarkan oleh Tuhan. Saya yakin bahkan teman-temanku Protestan pun tidak akan memungkiri bahwa hal ini benar; karena jika tidak, saya akan mengatakan bahwa mereka sama sekali bukanlah pengikut Kristus.

"Tapi apakah iman yang benar tersebut?"

"Iman yang benar", kata temanku Protestan, "adalah percaya pada Tuhan Yesus".

Setuju, seorang Kristiani percaya akan hal tersebut. Katakanlah padaku apa yang kamu maksud dengan percaya pada Tuhan Yesus?

"Kamu harus percaya bahwa Ia adalah Anak Allah Yang Hidup".

Setuju kembali. Syukur kepada Allah, bahwa kita dapat sependapat dalam suatu hal. Kami percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah Yang Hidup, bahwa Ia adalah Tuhan. Terhadap hal ini semua umat Kristiani setuju, kecuali mereka dari kaum Unitarians dan Socinians, tetapi kita akan meninggalkan mereka sendirian pada malam hari ini. Bila Kristus adalah Tuhan, maka kita harus percaya pada segala ajaran-Nya. Bukankah begitu, saudara-saudariku Protestan? Dan itulah Iman yang benar, bukankah begitu?

"Mmmm... tentu saja", kata temanku Protestan. "Saya kira inilah Iman yang benar. Untuk percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Hidup kita harus percaya pada segala yang telah diajarkan oleh Kristus".

Kami kaum Katolik juga menyatakan hal yang sama, dan disini kita kembali sependapat. Kristus, haruslah kita percayai. Kita musti percaya segala yang telah diajarkan Kristus, bahwa Tuhan telah menyatakannya, dan tanpa Iman tersebut tiada keselamatan. Tanpa Iman tersebut tiada harapan akan surga, tanpa Iman tersebut adalah hukuman abadi! Mengenai hal ini, kita tahu Kristus berkata: "Siapa yang tidak percaya akan dihukum", kata-Nya.


Bagian Kedua:
-------------

TETAPI, SAHABATKU YANG TERKASIH, BILA KRISTUS memerintahkan saya untuk percaya atas segala ajaran-Nya supaya tidak masuk kedalam hukuman abadi, Ia haruslah memberikan kepada saya suatu cara untuk mengetahui apa yang telah Dia ajarkan.

Maka, bila Kristus memerintahkan saya dengan ancaman hukuman abadi, Ia wajib memberikan saya suatu cara untuk mengenal ajaran-Nya, serta cara untuk mengenal apa yang Ia ajarkan. Dan cara yang diberikan oleh Kristus agar kita mengenal ajaran-Nya tersebut haruslah dapat diterima oleh semua manusia sepanjang jaman.

Yang kedua, cara yang diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk mengenal ajaran-Nya haruslah sesuatu yang dapat dipahami dengan kemampuan pikir seorang manusia -- bahkan yang terbodoh sekalipun. Karena orang yang paling bodoh pun mempunyai hak untuk diselamatkan, dan sebagai akibatnya mereka memiliki hak atas cara tersebut sehingga mereka dapat belajar tentang kebenaran yang telah diajarkan oleh Tuhan, hingga mereka dapat mempercayainya dan diselamatkan.

Cara yang diberikan oleh Tuhan agar kita mengerti ajaran-Nya haruslah suatu cara yang tidak mungkin salah. Karena bila cara tersebut dapat membawa kita pada kesesatan, itu bukanlah suatu cara sama sekali. Cara tersebut haruslah tidak mungkin salah, sehingga bila seseorang menggunakannya, ia tak akan salah, tanpa takut salah atau sesat, untuk dibawa pada pengetahuan akan segala kebenaran yang telah diajarkan oleh Tuhan.

Saya pikir tidak akan ada seorang pun yang hadir disini, tak peduli siapakah dia, apakah seorang Kristiani atau bukan, yang dapat menolak pendapat saya. Dan pendapat saya tersebut adalah dasar bagi segala yang akan saya terangkan selanjutnya. Maka, saya ingin agar kalian mengingatnya dengan baik dalam hati. Saya akan mengulanginya sekali lagi, karena atas dasar pendapat inilah terletak seluruh kekuatan dari tulisan dan penarikan kesimpulan saya selanjutnya.

Bila Tuhan memerintahkan saya dengan ancaman hukuman abadi untuk percaya segala yang Dia ajarkan, Ia berkewajiban memberi saya suatu cara untuk mengetahui apa yang telah Ia ajarkan. Dan cara yang diberikan oleh Tuhan kepada saya haruslah dapat diterima semua manusia sepanjang jaman -- harus dapat dimengerti oleh kemampuan pikir seluruh manusia, harus suatu cara yang tidak dapat salah bagi kita, sehingga bila seseorang menggunakannya ia akan dibawa pada pengetahuan tentang segala kebenaran yang telah diajarkan oleh Tuhan.


Bagian Ketiga:
--------------

APAKAH TUHAN MEMBERIKAN KEPADA KITA SUATU CARA? "Ya" kata temanku Protestan, "Dia memberikannya". Demikian pula yang dikatakan oleh Katolik: Tuhan telah memberi kita suatu cara. Apakah cara yang telah diberikan Tuhan kepada kita sehingga kita dapat belajar tentang kebenaran yang telah diberitakan oleh-Nya? "Kitab Suci", jawab temanku Protestan, "Kitab Suci, seluruh isi Kitab Suci, tak ada yang lain". Tetapi kami Katolik berkata: "Bukan. Bukan Kitab Suci dan interpretasi pribadinya, melainkan Gereja Allah Yang Hidup".

Saya akan membuktikan faktanya, dan saya menantang mereka semua yang terpisah dari Gereja Roma Katolik -- termasuk seluruh pendeta -- untuk menyanggah apa yang akan saya katakan malam hari ini. Saya katakan, bahwa bukanlah interpretasi pribadi dari Kitab Suci yang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi pengajar bagi manusia, tetapi Gereja Allah Yang Hidup.

Karena, temanku yang baik, bila Tuhan bermaksud agar manusia harus belajar tentang agama-Nya (Tuhan) dari sebuah buku --Kitab Suci-- tentulah Tuhan akan memberikan buku tersebut kepada manusia; Kristus akan memberikan buku tersebut kepada manusia. Apakah Ia melakukannya? Dia tidak melakukannya. Kristus mengutus para Rasul-Nya ke seluruh penjuru dunia dan berkata: "Pergilah, ajarlah semua bangsa, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus; ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu".

Kristus tidak berkata, "Duduk dan tulislah Kitab Suci, sebarkanlah ke seluruh penjuru dunia, dan biarlah setiap orang membaca serta mengartikannya sendiri". Bila Kristus berkata demikian, tidak akan pernah ada ke-Kristenan sama sekali di muka bumi ini, melainkan keburukan serta kebingungan, dan tak akan pernah ada Gereja Yang Satu, persekutuan dari satu tubuh. Oleh karena itu, Kristus tak pernah berkata kepada para rasul-Nya, "Pergi dan tulislah Kitab Suci lalu sebarkanlah, dan biarkan setiap orang mengartikannya sendiri". Perintah tersebut dicadangkan bagi Abad ke-16, dan kita telah melihat hasilnya. Sejak abad ke-16, muncullah agama yang satu diatas agama yang lain, gereja yang satu diatas gereja yang lainnya. Semuanya bertarung dan bertengkar satu sama lain. Dan semua itu dikarenakan oleh interpretasi pribadi terhadap Kitab Suci.

Kristus mengutus para rasul dengan wewenang untuk mengajar segala bangsa, dan tidak pernah memberi mereka perintah apapun untuk menulis Kitab Suci. Dan para rasul pergi kesana-kemari, berkotbah dimana-mana, serta menanamkan Gereja Allah ke seluruh penjuru dunia, tapi tak pernah berpikir untuk menulis Kitab Suci.

Ucapan pertama yang tertulis dilakukan oleh St. Matius (seorang Katolik), dan Ia menulis untuk kepentingan beberapa orang saja. Ia menulis Injil sekitar tujuh tahun setelah Kristus meninggalkan dunia ini. Berarti bahwa Gereja Allah, yang didirikan oleh Kristus, sudah ada tujuh tahun sebelum sebuah baris dari Perjanjian Baru dituliskan.

St. Markus (juga Katolik) menulis sekitar sepuluh tahun setelah Kristus meninggalkan dunia ini. St. Lukas (seorang Katolik lainnya) sekitar dua puluh lima tahun, dan St. Yohanes (juga seorang Katolik lainnya) sekitar enam puluh tiga tahun setelah Kristus mendirikan Gereja-Nya. St. Yohanes menulis bagian terakhir dari Kitab Suci -- Wahyu (the Book of the Apocalypse, Protestan lebih mengenalnya dengan sebutan Revelation) -- sekitar enam puluh lima tahun setelah Kristus meninggalkan dunia ini dan mendirikan Gereja-Nya. Agama Katolik sudah berdiri enam puluh lima tahun sebelum Kitab Suci diselesaikan, sebelum Kitab Suci dituliskan.

Sekarang saya bertanya kepadamu, saudaraku terkasih yang terpisah dari Gereja Roma Katolik. Apakah umat Kristiani, yang hidup pada masa antara didirikannya Gereja Kristus dan selesainya penulisan Kitab Suci, apakah mereka sungguh Kristen, seorang Kristen yang baik? Apakah mereka tahu agama yang dianut Yesus? Dimanakah dia orang yang berani mengatakan bahwa mereka yang hidup pada masa Yesus naik ke Surga hingga masa Kitab Suci selesai dituliskan adalah bukan Kristiani? Adalah jelas sekali dilihat dari berbagai sisi, dari sekte Kristen manapun, bahwa mereka adalah umat Kristiani yang terbaik, buah-buah pertama dari darah Yesus Kristus.

Tapi bagaimanakah caranya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk keselamatan jiwanya? Apakah dari mempelajari Kitab Suci? Tidak, karena Kitab Suci baru dituliskan. Dan akankah Tuhan kita meninggalkan Gereja-Nya selama enam puluh lima tahun tanpa seorang pengajar bagi manusia? Sangat disangsikan.

Saya bertanya, apakah para rasul seorang Kristiani, temanku Protestan? Kalian katakan, "Tentu saja, mereka adalah para pendiri pertama ke-Kristenan". Sekarang sahabatku, tak ada seorang pun dari para rasul yang pernah membaca Kitab Suci; tak ada satupun kecuali, mungkin, Santo Yohanes. Karena mereka semua telah mati sebagai martir bagi imannya terhadap Yesus Kristus dan tak pernah melihat halaman depan Kitab Suci. Setiap orang dari mereka mati sebagai martir dan pahlawan bagi Gereja Kristus sebelum Kitab Suci diselesaikan.

Maka bagaimanakah umat Kristiani yang hidup pada enam puluh lima tahun pertama sesudah Kristus naik ke surga -- bagaimana mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya? Mereka mengetahui hal tersebut persis sama seperti bagaimana kalian mengetahuinya, sahabatku Katolik. Kalian mengetahuinya dari ajaran Gereja Allah, sama seperti umat Kristiani permulaan mengetahuinya juga.


Bagian Keempat:
---------------

TIDAK HANYA ENAM PULUH LIMA TAHUN Kristus meninggalkan Gereja yang didirikan-Nya tanpa Kitab Suci, tapi selama tiga ratus tahun. Gereja Allah berdiri dan menyebar ke seluruh penjuru dunia tanpa Kitab Suci selama lebih dari tiga ratus tahun. Pada masa itu umat Kristiani tidak tahu apa yang membentuk sebuah Kitab Suci.

Pada jaman para rasul, banyak terdapat injil palsu. Ada Injil Simon, Injil Nikodemus, Maria, Barnabas, dan Injil kanak-kanak Yesus. Semua injil tersebut tersebar diantara umat Kristiani, dan mereka tidak tahu mana diantara injil tersebut yang asli dan mana yang palsu serta tidak benar. Bahkan mereka yang berpengalaman sekalipun saling berdebat apakah lebih mendukung Injil Simon atau Matius -- mendukung Injil Nikodemus atau Injil Markus, Injil Maria atau Injil Lukas, Injil kanak-kanak Yesus ataukah Injil Yohanes.

Dan hal ini pun terjadi dengan surat para rasul: Banyak surat tidak benar yang dituliskan, dan selama tiga ratus tahun umat Kristiani tak tahu manakah yang tidak benar atau palsu, atau manakah yang asli. Dan mereka tidak tahu apakah yang membentuk sebuah Kitab Suci.

Hal ini terjadi hingga abad ke-4, saat Paus di Roma, pemimpin Gereja, penerus Santo Petrus, mengumpulkan seluruh Uskup di dunia dalam sebuah Konsili. Dan dalam Konsili inilah ditetapkan bahwa Kitab Suci, seperti yang sekarang dimiliki oleh umat Katolik, adalah sabda Allah, dan bahwa Injil Simon, Nikodemus, Maria, kanak-kanak Yesus, dan Barnabas, dan semua surat para rasul yang sejenisnya adalah palsu, atau sedikitnya, tidak asli. Sedikitnya, karena tidak ada bukti asal usulnya yang jelas. Dan bahwa Injil Santo Lukas, Matius, Markus dan Yohanes, serta Wahyu / the Book of the Apocalypse (Revelation), adalah diinspirasikan oleh Roh Kudus.

Hingga masa itu, seluruh dunia selama tiga ratus tahun tidak tahu apakah itu Kitab Suci (catatan: umat Katolik di masa itu tidak mengenal Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru belum ada); maka dari itu, mereka tidak dapat berpegang pada Kitab Suci sebagai petunjuk, karena mereka tidak tahu dibentuk dari apakah Kitab Suci itu. Akankah Kristus, bila Ia menginginkan manusia untuk belajar tentang ajaran-Nya melalui sebuah buku, meninggalkan umat Kristiani di dunia selama tiga ratus tahun tanpa buku tersebut? Sangat disangsikan.


Bagian Kelima:
--------------

BUKAN HANYA TIGA RATUS TAHUN SAJA dunia ditinggalkan tanpa Kitab Suci, tapi selama seribu empat ratus (1400) tahun umat Kristiani ditinggalkan oleh-Nya tanpa Kitab Suci.

Sebelum mesin cetak ditemukan, Kitab Suci merupakan benda langka; Kitab Suci adalah benda yang mahal. Sekarang, kalian semua harus sadar, bila kalian pernah membaca sejarah, bahwa seni mencetak ditemukan sedikit lebih dari empat ratus tahun yang lalu (catatan: empat ratus tahun dari sejak tulisan ini dibuat; akhir abad 19) -- sekitar pertengahan abad ke Lima Belas -- dan sekitar seratus tahun sebelum munculnya seorang Protestan pertama di dunia.

Seperti yang telah saya katakan, sebelum seni mencetak ditemukan, buku adalah barang yang langka dan mahal. Ahli sejarah mengatakan bahwa di abad ke Sebelas -- delapan ratus tahun yang lalu -- Kitab Suci sangatlah langka dan mahal hingga butuh suatu keberuntungan, benar-benar keberuntungan, untuk bisa membeli sebuah salinan Kitab Suci! Sebelum mesin cetak ditemukan, segalanya harus ditulis dengan pena diatas perkamen atau kulit kambing. Hal ini, adalah proses yang amat melelahkan dan lambat -- sebuah proses yang mahal.

Sekarang, supaya kita dapat memperkirakan harga sebuah Kitab Suci pada masa itu, anggaplah bahwa seseorang harus bekerja sepuluh tahun lamanya untuk menyalin sebuah Kitab Suci dan mendapat upah US$ 1 sehari. Maka, harga sebuah Kitab Suci adalah sekitar US$ 3650 ! Dan sekarang, katakanlah bahwa seseorang harus bekerja selama dua puluh tahun untuk membuat salinan Kitab Suci tadi, seperti para ahli sejarah katakan hal tersebut akan berlangsung sekian lamanya, tanpa mendapatkan kenyamanan dan kemudahan untuk mengerjakannya seperti yang kita dapatkan sekarang. Maka, dengan US$ 1 sehari, selama dua puluh tahun, harga sebuah Kitab Suci hampir mencapai US$ 8000.

Anggaplah saya datang dan berkata demikian kepada kalian, "Sahabatku yang baik, selamatkanlah jiwamu, karena bila jiwamu hilang kamu akan binasa". Kalian lalu berkata, "Apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan jiwa kami ?" Seorang pendeta Protestan akan berkata kepadamu: "Kalian harus mendapatkan Kitab Suci; Kalian bisa mendapatkannya di toko-toko". Kalian bertanya tentang harganya, dan dijawab harganya US$ 8000. Kalian lalu berseru: "Tuhan menyelamatkan kami! Dan tidak dapatkah kami pergi ke surga tanpa buku tersebut??" Jawabannya tentu: "Tidak, kalian harus memiliki Kitab Suci dan membacanya". Kalian lalu bergumam mengenai harganya, tetapi kemudian ditanya, "Tidakkah jiwamu berharga US$ 8000 ??" Ya, tentu saja, tetapi kalian berkata bahwa kalian tidak memiliki uangnya. Dan bila kalian tidak bisa mendapatkan Kitab Suci, dan keselamatan jiwa kita terletak pada buku tersebut, maka kalian tentu harus tetap berada di luar Kerajaan Allah. Suatu kondisi tanpa harapan.

Selama seribu empat ratus (1400) tahun dunia ditinggalkan tanpa Kitab Suci -- tidak hanya satu diantara sepuluh ribu, bahkan tidak hanya satu diantara dua puluh ribu orang, sebelum mesin cetak ditemukan, yang memiliki Kitab Suci. Akankah Tuhan kita meninggalkan dunia tanpa buku tersebut bila buku ini penting bagi keselamatan manusia? Sangat disangsikan.


Bagian Keenam:
--------------

TAPI MARILAH KITA ANGGAP UNTUK SEMENTARA bahwa semuanya memiliki Kitab Suci, bahwa Kitab Suci telah ditulis sejak awal mulanya, dan bahwa semua pria, wanita, maupun anak-anak memilikinya. Apalah gunanya buku tersebut bagi orang yang tidak dapat membacanya? Buku bagi orang tertentu adalah benda yang tak berarti.

Bahkan saat ini setengah dari seluruh penduduk dunia tidak bisa membaca. Lebih lanjut lagi, karena Kitab Suci ditulis dalam bahasa Yunani dan Ibrani, seseorang haruslah memahami bahasa tersebut agar bisa membacanya.

Tapi dikatakan bahwa kita memiliki terjemahannya dalam bahasa Perancis, Inggris, serta bahasa-bahasa lainnya saat ini. Benar, tetapi apakah kalian yakin kalian memiliki terjemahannya yang benar? Bila tidak, maka kalian tidak memiliki Sabda Allah. Bila kalian mempunyai terjemahan yang salah, itu adalah hasil karya manusia. Bagaimanakah kalian dapat memastikannya? Bagaimanakah kalian tahu bila kalian memiliki terjemahan yang benar dari bahasa Yunani dan Ibrani?

"Saya tidak paham bahasa Yunani atau Ibrani", jawab temanku Protestan. "Untuk menterjemahkannya, saya harus bergantung pada pendapat orang yang memahaminya".

Maka, jika demikian, saudara-saudaraku, anggaplah bahwa mereka yang memahami bahasa tersebut terbagi-bagi pendapatnya, lalu beberapa dari mereka mengatakan hal ini benar, dan beberapa lainnya mengatakan salah? Maka habislah imanmu; kalian mulai berdebat dan ragu-ragu, karena kalian tidak tahu bilakah terjemahan tersebut benar.

Sekarang, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada terjemahan Kitab Suci Protestan, perkenankanlah saya untuk mengatakan kepadamu bahwa sebagian besar kaum Protestan yang terpelajar berkata bahwa terjemahan Kitab Sucimu -- King James Version -- adalah terjemahan yang sangat gagal dan penuh dengan kesalahan. Para pendeta, pengkotbah, serta pemimpinmu sendiri telah menulis berjilid-jilid untuk menyatakan semua kesalahan yang terdapat di dalam terjemahan King James, dan kaum Protestan dari berbagai denominasi membenarkan hal ini.

Beberapa tahun yang lalu, saat saya tinggal di kota St. Louis, diadakan sebuah rapat para pemimpin jemaat. Semua denominasi diundang. Maksud pertemuan tersebut adalah membuat suatu terjemahan yang baru dari Kitab Suci, dan memberikannya kepada dunia. Jalannya rapat tersebut diterbitkan setiap hari dalam koran Missouri Republican. Seorang Presbyterian yang sangat terpelajar (saya pikir begitu) berdiri dalam rapat itu, lalu ia mendesak perlunya dibuat suatu terjemahan baru dari Kitab Suci. Ia berkata bahwa terjemahan Kitab Suci Protestan saat ini mengandung tidak kurang dari tiga puluh ribu kesalahan.

Dan kalian berkata, sahabatku Protestan, bahwa Kitab Suci adalah penuntun serta pengajar bagimu. Pengajar macam apakah, dengan tiga puluh ribu kesalahan! Tuhan menyelamatkan kita dari pengajar semacam itu! Sebuah kesalahan cukuplah buruk, tetapi tiga puluh ribu adalah sedikit terlalu banyak.

Seorang pendeta lainnya berdiri dalam rapat tersebut -- saya pikir ia seorang Baptist -- dan dia mendesak perlunya dibuat terjemahan baru dari Kitab Suci. Ia berkata, selama tiga puluh tahun terakhir, dunia tidak memiliki Sabda Allah, karena Kitab Suci yang kita miliki adalah bukan Sabda Allah sama sekali.

Itulah mereka para pendetamu sendiri. Kalian semua tentunya membaca surat kabar, teman-temanku, dan pasti mengetahui apa yang terjadi di Inggris beberapa tahun yang lalu. Sebuah petisi dikirimkan kepada parlemen untuk meminta tunjangan beberapa ribu poundsterling guna membuat sebuah terjemahan baru dari Kitab Suci. Dan gerakan tersebut dipimpin serta dilaksanakan oleh para pemimpin dan pendeta Protestan.


Bagian Ketujuh:
---------------

TETAPI, SAUDARAKU YANG TERKASIH, bagaimanakah kalian dapat yakin akan imanmu? Kalian berkata Kitab Suci adalah pembimbingmu, tetapi kalian sendiri tidak tahu apakah kalian memilikinya. Baiklah untuk sementara kita anggap semuanya memiliki Kitab Suci, semua dapat membacanya dan memiliki terjemahan yang benar. Bahkan hal ini pun tidak dapat menjadikan buku tersebut sebagai pembimbing bagi manusia, karena interpretasi pribadi terhadap Kitab Suci bukan hanya tidak bisa salah, tetapi sebaliknya, amat bisa salah. Hal ini merupakan sumber dari segala macam kesesatan dan bidaah, serta segala macam doktrin penghinaan terhadap Tuhan. Jangan kaget saudara-saudaraku, santai sajalah dan baca argumen saya dibawah ini.

Di seluruh dunia saat ini terdapat lebih dari 3500 denominasi atau gereja yang berbeda, dan mereka semua berkata bahwa Kitab Suci adalah pembimbing serta pengajar bagi mereka. Dan disini kita anggap bahwa mereka semua adalah orang baik. Apakah mereka semua merupakan gereja-gereja yang benar? Hal ini tidaklah mungkin. Kebenaran adalah satu seperti Tuhan adalah satu, dan tidak mungkin terdapat kontradiksi. Setiap orang dalam hatinya sendiri-sendiri merasa bahwa masing-masing dari mereka tidaklah mungkin benar, karena mereka berbeda dan saling bertentangan satu dengan lainnya, dan karena itu, tidaklah mungkin semuanya benar. Kaum Protestan berkata bahwa orang yang membaca Kitab Suci dengan benar dan penuh dengan doa memiliki kebenaran, dan mereka semua berkata bahwa mereka membacanya dengan benar.

Baiklah kita anggap disini ada seorang Episcopalian minister. Orang ini (hanya untuk kepentingan argumentasi) adalah baik, jujur, berpengetahuan luas dan tekun berdoa. Ia membaca Kitab Sucinya dengan jiwa yang penuh doa, dan dari sabda di dalam Kitab Suci ia berkata bahwa jelas harus ada para Uskup. Karena tanpa Uskup, tidak akan ada Imam, tanpa Imam, tidak akan ada Sakramen, dan tanpa Sakramen, tidak ada Gereja. Lalu ada seorang Presbyterian, ia baik dan berpengetahuan luas. Ia juga membaca Kitab Suci, dan mengurangi kalimat tadi dengan berkata tidak perlu ada uskup, tapi cukup hanya para imam saja. "Inilah Kitab Suci", kata si Episcopalian. Dan "Inilah Kitab Suci yang memberimu kebohongan", kata si Presbyterian. Dua-duanya adalah orang yang tekun berdoa dan berpengetahuan luas.

Lalu seorang Baptist muncul. Dia (juga bagi kepentingan argumen ini) berpengetahuan luas, jujur, dan baik hati. Kata si Baptist, "Nah, apakah kalian telah dibaptis?"

"Saya sudah dibaptis" jawab si Episcopalian, "sewaktu masih bayi".

"Saya juga", kata si Presbyterian, "sewaktu masih bayi". Kata si Baptist, "Tetapi, kalian berdua pasti akan masuk neraka". Lalu ia membuktikannya dari Kitab Suci.

Lalu datang lagi seorang Unitarian, (barangkali) juga orang yang berpengetahuan luas, jujur dan baik hati. "Nah", katanya, "perkenankanlah saya untuk memberitahukan kepada kalian bahwa kalian adalah sekumpulan penyembah berhala. Kalian menyembah manusia sebagai Tuhan padahal dia bukanlah Tuhan sama sekali". Dan ia lalu membacakan beberapa teks yang juga diambil dari Kitab Suci untuk membuktikannya, sementara mereka yang lain berusaha mengabaikannya agar mereka tidak mendengar segala hujatan dari Unitarian tersebut. Dan mereka semua mempertahankan dirinya masing-masing, bahwa mereka memahami arti sesungguhnya dari Kitab Suci.

Kemudian datang seorang Methodist dan berkata, "Teman-temanku, apakah kalian telah mempunyai agama?" "Tentu saja kami punya", kata mereka. "Pernahkah kalian merasakan agamamu, Roh Kudus yang bergerak dalam dirimu?" tanya si Methodist. "Omong kosong", kata si Presbyterian, "kami dituntun oleh keinginan serta kehendak pribadi". "Nah" kata si Methodist, "jika kalian belum pernah merasakan agamamu, kalian tidak pernah memiliki agama, dan akan masuk ke dalam neraka untuk selamanya". Dan dia pun membuktikannya dengan Kitab Suci.

Seorang Universalist lalu datang, dia mendengar mereka semua saling menakut-nakuti satu sama lain dengan kekalnya api neraka. "Mengapa" katanya, "kalian sungguh sekumpulan orang yang aneh. Tidakkah kalian memahami perkataan Allah? Neraka itu tidak ada sama sekali. Dongeng ini cukup baik untuk menakut-nakuti nenek-nenek dan anak kecil". Dan ia membuktikannya dari Kitab Suci.

Sekarang datanglah seorang Quaker. Dia mendesak mereka supaya tidak bertengkar, dan memberi saran agar tidak perlu dibaptis sama sekali. Ia adalah orang yang paling baik diantara mereka (bukan yang sebenarnya, hanya untuk kepentingan argumen), dan dia menjelaskan imannya dengan sebuah Kitab Suci.

Orang yang lain lagi datang dan berkata: "Baptislah laki-laki saja dan biarkan para wanita. Karena Kitab Suci berkata, 'kecuali seorang laki-laki (unless a man) dilahirkan kembali dari Air dan Roh Kudus, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah'. Jadi, perempuan tidaklah masalah, tetapi baptislah laki-laki saja".

Kemudian datanglah seorang Shaker, katanya: "Kalian semua orang yang terlalu berani. Tidakkah kalian tahu jika Kitab Suci mengatakan padamu bahwa kalian harus melaksanakan keselamatanmu dengan rasa takut dan gentar, dan kalian semua tidak gentar sama sekali?? Saudara-saudaraku, bila kalian ingin masuk surga, takutlah! Gemetarlah saudaraku!!!"


Bagian Kedelapan:
-----------------

ITULAH TUJUH ATAU DELAPAN denominasi, berbeda satu dengan lainnya, atau memahami Kitab Suci dengan cara yang berlainan, gambaran dari buah-buah interpretasi pribadi. Bagaimana jadinya bila saya mengilustrasikan 3500 denominasi, semuanya mengandalkan Kitab Suci sebagai pembimbing dan pengajar mereka, dan semuanya berbeda satu dengan lainnya? Apakah mereka semuanya benar? Yang satu berkata neraka itu ada, tetapi yang lain berkata neraka tidak ada. Apakah mereka berdua benar? Yang satu berkata Kristus adalah Tuhan, yang lain berkata Dia bukanlah Tuhan. Yang lain berkata hal ini tidaklah penting. Yang lainnya lagi berkata perlu pembaptisan, tetapi yang lainnya berkata itu tidak perlu. Apakah keduanya benar? Saudaraku, hal ini adalah mustahil. Semuanya tidak mungkin benar.

Jika demikian siapakah yang benar? Ia yang memahami makna sesungguhnya dari Kitab Suci, katamu. Tetapi Kitab Suci tidak mengatakannya kepada kita siapa -- Kitab Suci tidak pernah menyelesaikan perselisihan. Ia bukanlah pengajar.

Kitab Suci, sahabatku, adalah buku yang baik. Kami Katolik pun setuju bahwa Kitab Suci adalah sabda Allah, sumber inspirasi, dan seluruh umat Katolik dinasihatkan untuk membacanya. Tetapi sebaik apapun dia, Kitab Suci tidak dapat menerangkan dirinya sendiri. Ia adalah buku yang baik, sabda Allah, sumber inspirasi. Pengetahuanmu tentang Kitab Suci tidaklah di-ilhami -- Kalian pun pasti tidak berpura-pura mendapatkan inspirasi tentunya!

Dan sekarang, apakah ajaran Gereja dalam hal ini? Gereja Katolik mengatakan bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah, dan bahwa Allah telah menunjuk sebuah otoritas untuk menyatakan kepada kita arti yang sesungguhnya.

Kita dapat menganalogikan Kitab Suci ini dengan Konstitusi Amerika Serikat. Saat George Washington dan para hakim anggotanya merumuskan Konstitusi dan Hukum Tertinggi negara Amerika Serikat, mereka tidak berkata kepada rakyat Amerika: "Biarlah setiap orang membaca Konstitusi dan membuat sebuah pemerintahannya sendiri; biarlah tiap orang mengartikan sendiri Konstistusi tersebut". Bila Washington melakukan itu, tak akan ada negara Amerika Serikat. Semua rakyatnya akan terbagi-bagi, dan negara tersebut akan terpecah-belah menjadi ribuan bagian atau pemerintah yang berbeda.

Apakah yang dilakukan oleh Washington? Ia memberikan kepada rakyat sebuah Konstitusi dan Hukum Tertinggi, dan menunjuk Mahkamah Agung serta Hakim Agung bagi Konstitusi tsb. Dan merekalah yang menjelaskan makna sesungguhnya dari Konstitusi kepada seluruh rakyat Amerika -- semuanya tanpa terkecuali, dari presiden hingga ke pengemis. Semuanya yakin dan taat pada keputusan dari Mahkamah Agung, dan hanya inilah yang dapat membuat rakyat tetap bersatu dan memelihara keutuhan dari Amerika Serikat. Saat rakyat mengartikan sendiri Konstitusi tersebut, saat itulah akhir dari keutuhan negara.

Begitu pula dengan setiap pemerintahan -- disini dan dimanapun juga. Sebuah Konstitusi, sebuah Mahkamah Agung, Hakim Agung bagi Konstitusi tersebut, dan Mahkamah Agung bertugas untuk memberikan kepada kita arti dari Konstitusi serta Hukum.

Dalam setiap negara dengan pemerintahan yang baik haruslah ada hal-hal berikut: sebuah Hukum Tertinggi (Undang Undang Dasar), Mahkamah Agung, Hakim Agung, yang mana seluruh masyarakat taat kepadanya. Dalam setiap negara haruslah terdapat Hukum Tertinggi, Mahkamah Agung, Hakim Agung, dan semua taat pada kebijaksanaannya; tanpa hal tersebut tak ada pemerintahan yang dapat bertahan. "Sebuah rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan". Bahkan diantara suku-suku Indian suatu perselisihan juga terjadi. Bagaimanakah mereka dapat tetap bersatu? Melalui kepala suku mereka, yang merupakan pemimpinnya.

Maka Yesus pun telah membentuk Mahkamah Agung-Nya -- Hakim Agung-Nya -- untuk menyatakan kepada kita makna sesungguhnya dari Kitab Suci, dan untuk menyatakan kepada kita ajaran yang sesungguhnya dari perkataan-Nya. Anak Allah Yang Hidup telah berjanji bahwa Mahkamah Agung-Nya tidak pernah salah, oleh sebab itu umat Katolik yang benar tidak memperdebatkannya.

"Aku percaya", kata umat Katolik, "karena Gereja mengajarkan aku untuk mempercayainya. Aku percaya pada Gereja karena Tuhan telah memerintahkan aku untuk percaya kepadanya. Tuhan berkata: 'Dengarkanlah jemaat, dan jika ia tidak mau mendengarkan mereka pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai' (Hear the Church, and he that does not hear the Church let him be to thee as a heathen and a publican). 'Siapa yang mendengarkan kamu mendengarkan Aku' kata Kristus, 'dan siapa yang tidak mendengarkan kamu tidak mendengarkan Aku'". Maka dari itu, Katolik percaya karena Tuhan mengatakannya, dan atas otoritas Tuhan.

Tetapi temanku Protestan berkata, "Kami percaya pada Kitab Suci". Baik sekali, bagaimana kamu memahami Kitab Suci? Kata sang Protestan: "berdasarkan pendapat dan penilaian saya yang paling baik inilah arti dari tulisan tersebut". Dia tidak yakin tentang hal itu, tetapi menurut pendapat serta penilaiannya yang terbaik. Teman-temanku, hal ini hanyalah pernyataan dari manusia -- ini hanyalah iman terhadap manusia, bukan Iman terhadap Tuhan.

Hanya oleh Iman terhadap Tuhan-lah kita memberi hormat serta kemuliaan kepada-Nya, oleh hal tersebut pula kita taat pada kebijaksanaan dan kebenaran-Nya yang tak ada batasnya, dan bahwa ketaatan serta penghormatan tersebut perlu bagi suatu keselamatan.

Saya sudah membuktikan bahwa interpretasi pribadi terhadap Kitab Suci tidak dapat menjadi pembimbing atau pengajar bagi manusia. Dalam khotbah lainnya, saya akan membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja Allah yang benar, tidak ada yang lain: diluar hal tersebut tidak ada keselamatan.


Arnold Damen, S.J.


Imprimatur dan Nihil Obstat adalah pernyataan resmi dari Gereja Katolik bahwa suatu karya (buku, pamflet, dll) adalah bebas dari kesalahan doktrin serta moral.

Nihil Obstat: T.L. Kinkead
Censor Deputatus

Imprimatur: + Michael Augustine
Uskup Agung New York

Translated to Bahasa Indonesia by the Indonesian Traditional Catholic Youth

 

Indonesia main page


Home | Newsletters | Library | Vocations | History | Links | Search | Contact